BREAKING NEWS


 




 

Empat Ajaran Abraham: Mengenal Lebih Jauh Teologi Abraham

Gambar ilustrasi

 

MoviStar21 | Dalam upaya mencontoh Abraham —sebagai manusia yang dijadikan sampel bagi seluruh manusia oleh Sang Penciptanya, maka kita harus benar-benar mengenal sifat, karakter, dan pekerjaan atau apa saja yang dilakukan oleh beliau. Pekerjaan, sifat, atau karakter beliau termuat di dalam ajarannya sehingga penting bagi kita untuk mengenal dan memahami ajarannya. Namun, seperti apakah ajaran Abraham yang dimaksud? Berikut telah tersaji "Empat Ajaran Abraham" yang dikemas secara jelas agar mudah untuk dipahami. 


Dasar-Dasar Ajaran Abraham 


1. Keimanan (aqidah) 

Manusia diibaratkan seperti pohon yang memiliki bagian utama, berupa akar, batang, dan buah. Oleh karena itu, keimanan atau aqidah digambarkan seperti akar karena esensi dari aqidah adalah fondasi dasar dari semua pikir, kata, dan perbuatan seseorang. Kesadaran (yakni dimensi mental spiritual atau batin) yang hanya dapat dimiliki oleh manusia dengan kemampuan berpikir yang sudah sampai pada tahap spiritual—mampu memahami petunjuk ilahi, ini dapat terjadi karena didukung oleh kesempurnaan otak secara fisik. Lantas, apa makna sesungguhnya dari keimanan itu sendiri? 


Iman adalah suatu komitmen (perjanjian) akan kesetiaan seorang manusia kepada Sang Pencipta, bahwa dia hanya menaati apapun yang Dia perintahkan. Dengan kata lain, komitmen ini menyatakan kesanggupan untuk menjadikan Dia sebagai satu-satunya pengatur hidupnya, meski harus mengorbankan apa-apa yang dicintainya dalam bentuk mempercayakan atau menyerahkan hidupnya kepada Sang Pemilik Alam Semesta. Kesadaran seseorang akan keimanan adalah alasan dari setiap perbuatannya sehingga apapun yang dia perbuat adalah harus atas perintah-Nya yang berlandaskan pada sifat kasih dan sayang. Inilah perjanjian—dasar dari cara hidup—yang dilakukan oleh Abraham yang kemudian dia ajarkan kepada anak cucunya. Ikatan inilah satu-satunya cara bagi mereka agar dapat keluar dari kehidupan rimba yang menyiksa menuju pada kehidupan damai sejahtera yang diridhai-Nya. 


2. Pengabdian 

Kesadaran atas keimanan tersebut tidak boleh hanya tersimpan di otak, sebab eksistensi dari sifat iman seseorang kepada-Nya dapat dibuktikan melalui perbuatannya. Tingkah laku seseorang merepresentasikan apa yang orang tersebut pikirkan. Sama halnya seperti penampakan sebuah pohon yang menjelaskan kondisi akarnya, jika pohonnya sehat, pasti akarnya sehat, begitu pula sebaliknya. Selain itu, perbuatan seseorang tidak mungkin berbeda dengan aqidahnya, jika akarnya akar nangka, pasti batangnya pohon nangka, tidak mungkin tidak. 


Perlu diingat bahwa Sang Pencipta memiliki kehendak dan perintah sehingga sudah menjadi kewajiban bagi makhluk ciptaan-Nya untuk melaksanakan kehendak dan perintah-Nya itu. Jadi, status manusia dan makhluk hidup lainnya adalah sebagai pengabdi (pelaksana perintah-Nya) dan Dia adalah yang diabdi atau yang ditaati segala kehendak dan perintah-Nya. Barulah di sini terjadi hubungan timbal-balik yang jelas antara Tuan dengan manusia sehingga rumus atau cara kerjanya adalah Dia memiliki kehendak dan manusia yang melaksanakan kehendak itu. Hubungan inilah yang seharusnya tercipta sebagai manusia yang fitrahnya hidup dan bekerja hanya demi Dia. 


Pertanyaannya, apakah cara mengabdi manusia dan alam semesta (termasuk fisik manusia) itu sama? Jawabannya, tidak sama. Mengapa demikian? Alam semesta memang diciptakan oleh-Nya agar bersifat statis, tetap, yakni tidak pernah berubah, tidak memiliki nafs sehingga mereka tidak memiliki potensi untuk menjadi pembangkang. Sebagai contoh, tekanan Hidrostatis dan hukum Archimedes yang berlaku pada air ini memang sudah ada dari sebelum manusia mengetahui sifat-sifat air tersebut. Sementara itu, manusia bersifat dinamis. Hal ini disebabkan oleh kemampuan otak manusia yang dapat membolak-balikkan informasi, memiliki nafs, dan faktor-faktor lain yang berbeda dengan sifat-sifat pada alam. 


3. Hukum 

Jika dianalogikan, Sang Pencipta seperti manusia yang menciptakan suatu benda, tentulah Dia juga membuat pengaturan (sistem) sebagai pusat kendali agar benda tersebut dapat beroperasi dengan baik. Begitulah gambaran dalam Dia menciptakan manusia, Dia tidak berhenti hanya menciptakan manusia, tetapi Dia ciptakan juga "sistem pengaturan khusus" untuk manusia. Dikarenakan manusia itu bersifat dinamis (mudah berubah) sehingga Dia tahu bahwa manusia memiliki potensi untuk menyimpang dari garis fitrahnya, maka Dia ciptakanlah "Sistem Hukum". 


Hukum ciptaannya adalah satu sistem aturan yang didalamnya terhimpun seluruh aspek yang mengatur kehidupan manusia, baik hubungan dengan Dia, hubungan antar sesama manusia, ataupun hubungannya alam semesta. Tujuan dari diciptakan semua aturan hukum tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka menjaga manusia agar berada pada fitrahnya sehingga kehidupan yang seimbang, harmonis, teratur, damai, dan sejahtera bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi alam semesta. Akan tetapi, jika manusia melakukan pelanggaran terhadap hukum yang Dia ciptakan, maka pasti hasilnya adalah terjadi ketidakadilan, ketidakseimbangan, dan ketidakteraturan hidup yang menciptakan malapetaka sosial bagi kehidupan manusia dan alam semesta. 


4. Kekuasaan 


Telah dibahas sebelumnya pada artikel yang berjudul "Mengungkap Kebenaran Universal sebagai Rahasia Besar yang Tersembunyi" bahwa aktivitas-aktivitas yang seluruh organisme lakukan adalah bentuk ketaatan mereka kepada satu-satunya sistem yang Dia ciptakan sebagai satu-satunya Pengatur, yaitu Sistem Ketundukpatuhan yang sudah kita lihat mekanisme kerjanya di alam semesta. Inilah cara mereka melaksanakan kehendak dan perintah-Nya (mengabdi), ini juga adalah bukti seagung itulah Dia sampai-sampai makhluk-makhluk di alam semesta mengabdi hanya kepada-Nya. Perhatianlah banyak bukti yang menjelaskan bahwa tidak ada dari mereka yang membangkang atau protes akan tupoksinya. Dengan begitu, alam semesta sebagai Kerajaan yang sangat besar adalah bentuk nyata dari Kekuasaan-Nya.  


Jadi, kedudukan Sang Pencipta bukan hanya sebagai Pencipta, tetapi Dia juga adalah Sang Pengatur bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya, tak hanya bagi alam semesta, tetapi juga bagi alam sosial manusia. Disebabkan kedudukan-Nya yang begitu Esa, tidaklah berlebihan jika kita memanggil-Nya dengan sebutan "satu-satunya Penguasa dan Raja alam semesta". 


Terdapat dua tradisi Sang Raja dalam masalah kekuasaan, yaitu hukum Pergiliran dan hukum Ajal Kekuasaan. Sekian, terima kasih dan sampai jumpa di artikel selanjutnya. 


Written by Marcella Safitri

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar