Header Ads

Fitrah Manusia: Menempuh Jalan Hidup yang Satu


 

Segala sesuatu yang ada di langit dan segala apa yang ada di bumi baik itu dalam kehidupan makro maupun kehidupan mikro, semua yang bisa kita lihat, hirup, rasakan adalah ciptaan-Nya. Tidak ada yang dapat menciptakan sesuatu lebih baik dari-Nya. 


Dialah yang telah menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada sehingga tidak ada satupun benda atau makhluk yang bukan milik-Nya, termasuk manusia. Dengan begini, hanya Dia yang berhak memperlakukan atau mengatur makhluk-makhluk di alam semesta sesuai keinginan-Nya tanpa ada yang menjadi tandingan-Na. Tidak ada satupun makhluk di alam semesta ini yang mempunyai hak yang sama dengan-Nya, yakni yang Maha Kuasa. Seperti pada pembahasan di artikel sebelumnya bahwa semua makhluk di alam semesta tunduk kepada-Nya, dibuktikan dari ketaatan mereka kepada-Nya dalam menjalankan sistem ketundukpatuhan sehingga kehidupan yang harmonis, seimbang, adil, damai, dan sejahtera dapat tercipta. Siapapun yang dapat mengelola alam dengan benar, dia akan mendapatkan berkat dari-Nya. 


Satu makhluk dengan makhluk lainnya saling berkaitan, mereka terikat satu sama lain, dan saling menyejahterakan atau saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. Ketika ada satu yang rusak, maka yang lain ikut terkena dampaknya. Inilah yang kita sebut sebagai "Sistem Ketundukpatuhan". Dia adalah pencipta terbaik sehingga tidak akan ada kecacatan pada alam semesta, semua makhluk memiliki dan menjalankan fungsinya masing-masing dengan caranya sendiri. Di alam semesta ini, hanya manusia yang memiliki potensi merusak. Spesies invasif ada bukan tanpa sebab, banyak organisme punah dan menderita bukan berarti ini tanda kalau alam semesta memiliki kecacatan, tetapi karena ada campur tangan manusia dalam mengatur mereka. 


Untuk itulah, manusia harus menggunakan tiga modal yang telah Dia berikan (pendengaran, pengelihatan, dan akal pikiran) dengan benar agar tidak menjadi makhluk perusak sistem yang telah ditetapkan oleh-Nya, dan agar manusia dapat kembali ke jalan hidup yang seharusnya manusia lalui, yaitu jalan hidup yang satu, jalan kebenaran universal. 


Alam semesta tercipta tidak hanya untuk melayani manusia dan ilmu pada alam hadir untuk menjadi lebih dari sekadar ilmu pengetahuan, tetapi dia ada sebagai perantara Sang Pencipta untuk memberi kode kepada manusia, melalui kode (pola-pola yang terlihat) itulah manusia dapat mengambil pelajaran yang akan menjadi secercah cahaya sebagai kebenaran dari-Nya sehingga manusia dapat menjalankan fungsi dirinya. 


Manusia memang memiliki kemampuan yang membedakan dia dari makhluk lainnya, yaitu akal pikiran. Akan tetapi, manusia hanya dipinjamkan akal pikiran dan diberi kesempatan untuk mengelola alam berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Dengan demikian, ketika manusia melakukan sesuatu (mengelola alam) tidak atas dasar ketentuan dari-Nya, maka rusaklah alam itu, dan kehidupan pun akan kacau, bahkan binasa. Dengan segala kelebihan manusia, bukan berarti manusia boleh menciptakan aturan dan mengatur makhluk lain (khususnya manusia) seperti Dia mengatur makhluk-makhluk ciptaan-Nya, dan ini adalah suatu kebenaran. Bayangkan saja, jika ada dua pemerintah dalam satu negara, pasti hancurlah negara itu. Sama halnya dengan alam semesta yang telah berjalan sesuai sistem ketundukpatuhan yang Dia ciptakan, ketika ada sistem lain yang bukan berasal dari Sang Pencipta alam semesta itu sendiri muncul, maka rusaklah sistem ketundukpatuhan yang telah berlaku di alam semesta itu, termasuk bumi. 


Disebabkan kebesaran atau kuasa-Nya atas segala sesuatu, kedudukan manusia tidak lain hanyalah hamba-Nya (hanya sebatas pelayanan yang tidak memiliki hak menjadi raja atas makhluk yang lain). Oleh sebab itu, manusia harus tunduk kepada-Nya dengan cara melaksanakan kehendak dan perintah dari satu-satunya Pencipta paling agung di alam semesta yang tiada tandingan, yakni Sang Maha Kuasa. Terlepas dari perbedaan warna kulit, suku, budaya, dan sebagainya, tujuan manusia diciptakan adalah sama karena pencipta manusia hanya ada satu, itulah Sang Pencipta, sumber dari segala sumber kehidupan, Majikan sejati umat manusia. Jadi, manusia hanyalah budak yang hanya boleh taat pada sistem buatan Sang Majikan dan melaksanakan perintah-Nya (mengabdi kepada Sang Pencipta). 


Perlu diingat bahwa Alam adalah standar kebenaran mutlak dari-Nya, alam bersifat logika (logis atau rasional), semua fenomena pada alam dapat dipahami dan dijelaskan oleh manusia. Dia yang menciptakan manusia, maka Dia juga yang paling mengenal manusia dan Dia yang paling tahu mana yang buruk dan mana yang baik untuk manusia. 


Jadi, apapun yang bertentangan dengan alam (nalar logika manusia) akan binasa, dan suatu kebenaran yang diyakini oleh manusia tetapi tidak selaras dengan alam, maka hal itu tidak dapat dikatakan sebagai kebenaran karena kebenaran hanya datang dari-Nya. 


Dengan demikian, dapat kita ambil kesimpulan bahwa hanya Dia yang paling kenal dan paling tahu apa yang baik dan apa yang tidak baik untuk manusia. Oleh karena itu, hanya Dia pula yang dapat menyatukan umat manusia dari perpecahan yang menjauhkan manusia untuk mendapat kasih sayang-Nya. Dengan begitu, sekarang sudah mulai terlihat pola tak kasatmata yang membuktikan eratnya hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta sehingga manusia dan Sang Pencipta adalah satu-kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Untuk melihat dengan lebih jelas lagi kebenaran-Nya, ikuti terus alur pembahasan di artikel-artikel berikutnya. Sekian dulu, semoga bermanfaat dan terima kasih.


 Written by Marcella safitri

Posting Komentar

0 Komentar