BREAKING NEWS


 

Memandang Abraham sebagai Figur Manusia Contoh


 

Sang Tuan sebagai satu-satunya yang berhak diabdi dan dipatuhi kehendak dan perintah-Nya, Pencipta Alam Semesta, tentulah Dia memiliki standardisasi yang tinggi dalam memilih manusia yang akan dijadikan sebagai manusia percontohan bagi manusia lainnya. Disebabkan ia akan menjadi kepanjangan tangan dari Sang Pencipta bagi ummat manusia dan alam semesta, manusia pilihan tersebut harus memiliki sifat-sifat-Nya. 


Abraham telah dipilih untuk menjadi utusan-Nya, dan telah mendapatkan predikat sebagai kekasih dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Lantaran pilihan Sang Tuan adalah pilihan yang terbaik sehingga kualitasnya tidak bisa diragukan lagi. 


Sang Pencipta hendak menjadikan manusia sebagai pelestari alam, ketika manusia berada pada garis fitrahnya, mereka akan hidup damai sejahtera berdampingan dengan alam. 


Di sinilah seorang Utusan memegang peran penting tersebut. Untuk dapat menciptakan kehidupan yang dikehendaki-Nya, pastilah seorang Utusan tidak bisa bergerak sendirian, Utusan Tuanlah yang mengarahkan manusia agar manusia dapat berbuat sesuai kehendak dan perintah-Nya (menjalankan fungsi dirinya). 


Oleh karena itu, sebelum menjadikan Abraham sebagai contoh, kita harus mengenal lebih jauh tentang beliau melalui pertanyaan sederhana, apa yang ia lakukan dan sifat seperti apa yang beliau miliki sampai-sampai Sang Pencipta menjanjikan bahwa Dia akan menjadikan ia dan keturunannya (yang tidak melanggar ajaran atau aturan-Nya) pemimpin bagi seluruh manusia? 


Penting untuk diingat bahwa manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Manusia dibekali akal pikiran yang paling canggih adalah sarana atau modal dasar untuk menemukan jalan hidup yang benar, jalan kebenaran sejati, yakni jalan hidup yang ditempuh oleh para Utusan Tuan. Sang Pencipta tidak mungkin menciptakan sesuatu yang tidak dibutuhkan oleh makhluk ciptaannya, kebenaran yang berasal dari Sang Tuan adalah pasangan sejati akal manusia. Jadi, kebenaran itu bersifat logis dan alamiah sehingga dapat dijelaskan dan dipahami oleh manusia. 


Nabi Abraham adalah manusia yang memaksimalkan potensi dirinya untuk mencari kebenaran sejati. Beliau mencari apa yang sesungguhnya harus diabdi dan ditaati kehendak dan perintahnya (dicintai) oleh manusia? Seperti apa sifatnya? Di mana dia berada? Apa yang dia kerjakan? Seagung apakah dia? Apakah dia dapat menyelamatkan manusia dari kesengsaraan, kemiskinan, kebodohan, dan perbudakan menuju kepada kehidupan yang harmonis, damai, dan sejahtera? Dan bagaimana caranya? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian membawa beliau pada perjalanan panjang yang bermakna. 


Seperti halnya yang dilakukan oleh Abraham, sebagai manusia, kita harus berusaha mengoptimalkan sarana yang telah Dia berikan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya Dia kehendaki sehingga kita tidak menjadi seperti benda—makhluk ciptaannya—yang rusak (tidak berfungsi sebagaimana mestinya), dan berakhir di pembuangan. Sebaliknya, kita harus berupaya untuk membanggakan Sang Pencipta agar Dia bangga dan memberikan kasih sayangnya kepada kita semua. 


Ada begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah hidup Abraham yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan fungsi diciptakannya manusia yang akan kita kupas bersama di artikel selanjutnya. Sekian dulu, terima kasih dan sampai jumpa. 


Written by Marcella Safitri

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar