Kos itu berdiri sunyi di ujung gang sempit, terhimpit bangunan tua yang catnya mengelupas. Awalnya tak ada yang aneh. Para penghuni hidup seperti biasa—berangkat pagi, pulang malam, saling sapa sekadarnya. Hingga suatu malam, salah satu penghuni, Rian, terbangun dengan tubuh berkeringat dingin. Dalam mimpinya, ia melihat sesosok pocong tergantung di balok kayu, bergoyang pelan, dengan kain kafan kusam yang meneteskan cairan hitam.
Video selengkapnya klik disini Putar video selanjutnya
Sejak malam itu, mimpi buruk mulai menjalar ke penghuni lain. Ada yang mendengar suara tali berderit di tengah malam, ada pula yang melihat bayangan putih berdiri di ujung lorong. Pocong. Diam. Menatap.
Awalnya mereka saling menenangkan diri—hanya sugesti, kelelahan, atau cerita horor yang terlalu sering didengar. Namun kecurigaan menguat ketika kejanggalan demi kejanggalan muncul. Di dapur bersama, piring-piring kotor menumpuk berhari-hari, padahal semua merasa telah mencucinya. Bau anyir terkadang tercium, seperti bau kain basah yang lama digantung.
Yang paling mencurigakan adalah satu kamar di ujung lorong. Kamar itu selalu terkunci. Penghuninya jarang terlihat, bahkan nyaris tak pernah keluar. Setiap malam sekitar pukul tiga, terdengar bunyi ketukan pelan dari dalam kamar itu—bukan ke pintu, melainkan ke dinding, seolah seseorang meminta tolong dari ruang sempit.
Suatu malam, listrik padam. Dalam gelap, para penghuni berkumpul di ruang tengah. Tiba-tiba terdengar suara keras—duk… duk… duk—dari kamar terkunci itu. Pintu bergetar hebat. Bau anyir menyengat memenuhi lorong.
Dengan senter seadanya, mereka memberanikan diri mendekat. Kunci pintu yang biasanya kokoh, kini terbuka dengan sendirinya. Saat pintu didorong, semua terdiam.
Di dalam kamar, tak ada perabot layak. Hanya sebuah balok kayu di langit-langit, dengan tali tambang yang masih basah. Di bawahnya, tergantung sesosok pocong—kain kafannya terikat kuat, wajahnya hitam membiru, mata terbuka lebar menatap mereka satu per satu.
“Sudah waktunya…” suara parau itu bergema tanpa bibir bergerak. “Aku butuh pengganti.”
Tiba-tiba salah satu penghuni jatuh pingsan. Pocong itu bergerak, tali berderit, tubuhnya melayang mendekat. Mereka lari berhamburan, namun lorong terasa memanjang, seolah tak berujung.
Keesokan paginya, kos itu sepi. Polisi datang setelah laporan warga. Satu kamar kosong—penghuninya menghilang tanpa jejak. Di dapur, piring-piring kembali kotor, padahal tak ada siapa pun yang tinggal.
Dan setiap pukul tiga dini hari, warga sekitar masih mendengar suara tali berderit dari kos itu. Pocong gantung itu belum pergi. Ia masih menunggu—meminta tumbal nyawa berikutnya.



0 Komentar