Bojonegoro, movistar21 | Sosok Nurlila, seorang guru Bahasa Jawa dan Seni Budaya di SMPN 5 Bojonegoro, kembali menarik perhatian publik pendidikan dan seni daerah. Perempuan muda yang akrab disapa Lila Kavya ini dinilai sebagai potret pendidik inspiratif yang mampu menjembatani dunia akademik dengan pelestarian seni tradisi.
Tidak hanya mengajar di ruang kelas, Lila menjadi motor penggerak bangkitnya kecintaan siswa terhadap tembang Jawa, karawitan, dan budaya lokal. Dengan pendekatan kreatif, ia menghadirkan pembelajaran yang hidup, interaktif, dan dekat dengan keseharian para remaja di era digital.
Lila yang berasal dari Desa Sidobandung, Kecamatan Balen, dikenal pula sebagai sinden muda berbakat. Ia sering tampil dalam berbagai kegiatan seni budaya, termasuk panggung bergengsi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, menjadikannya figur yang menginspirasi generasi muda untuk berani berkarya sekaligus melestarikan warisan budaya Jawa.
“Jadi guru dan sinden memang cita-cita sejak kecil. Bersyukur keduanya bisa berjalan selaras,” ujarnya.
Kecintaan Lila pada dunia seni bukan datang tiba-tiba. Lahir dari keluarga seniman, ia tumbuh dengan pengalaman mengikuti sang ayah, pakdhe, dan budhe menghadiri pagelaran tayub di kampung. Dari kebiasaan itulah muncul ketertarikan mendalam pada tembang Jawa.
“Sejak sering ikut budhe menonton tayub, saya mulai ingin belajar nembang. Rasanya seperti dipanggil untuk mencintai warisan budaya sendiri,” kenangnya.
Kini, melalui peran gandanya sebagai pendidik dan pelaku seni, Lila Kavya menjadi inspirasi bagi siswa dan masyarakat luas—bahwa melestarikan budaya bukan sekadar tugas, melainkan identitas yang harus terus dijaga dan diwariskan.

0 Komentar